jump to navigation

Dago Pakar – Maribaya 29 Juli 2007

Posted by susilobu in Sepeda.
trackback

dscn7878.jpg

Minggu, 29 Juli 2007 rute perjalanan kami berikutnya adalah Dago Pakar – Maribaya. Mundur beberapa menit dari waktu yang direncanakan, akhirnya kami bersembilan, Pak Mietra, Raharjo, Bowo, Anung, Silo, Eko, Jeffri dan yang cukup mengejutkan adalah Pak Sutiadi mengajak serta Istrinya. Menyusuri jalan setapak antara Dago Pakar menuju Maribaya, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti jejak para pejalan kaki sementara sepeda saya titipkan pada pemilik warung di depan gerbang Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda.. Sementara Eko dan Jeffri tetap pada alirannya yaitu bersepeda. Jujur saja, saya kapok bersepeda melewati track ini, karena pernah beberapa kali terjerembab. 

Dago Pakar atau Pakar Dago adalah bagian dari salah satu blok Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda yang dulu dikenal sebagai Taman Wisata Curug Dago. Secara administratif, daerah ini termasuka wilayah Desa Mekarwangi, Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung dengan luas area sekitar 569,70 Ha. Secara topografi kawasan Tahura mempunyai variasi kemiringan (slope) dari curam sampai terjal dengan ketinggian +770 m dampai dengan +1.350 m dpl.  Menurut klasifikasi Schmidth Ferquson, iklim disnis termasuk type B dengan kelembaban nisbi antara 70% di siang hari dan 90% di pagi hari dan malam hari dan suhu antara 220C – 240C di lembah dan 180C – 220C di puncak serta dengan curah hujan rata-rata 2.500-4.500 mm/tahun. 

Menyusuri track antara Dago Pakar sampai dengan Maribaya, rasanya seperti memutar kembali jarum waktu. Mengingatkan beberapa tahun bahkan dekade lalu pernah kita tinggalkan tapak-tapak kaki kita di sepanjang jalan ini yang dulu masih berupa jalan tanah. Juga jejak-jejak kita disepanjang Goa Belanda yang gelap dan lembab. Meski waktu telah berputar sedemekian cepat, namun kerindangan pohon yang sama masih mewarnai setiap pandangan sehingga matahari pagi tak mampu menembus kelebatannya. Setelah beberapa kali take photos di depan Goa Belanda, perjalanan dilanjutkan tidak dengan memasuki Goa tersebut, tetapi justru menysuri sepanjang dinding tebing di luar Goa. Di kerindangan pohon, sayup-sayup nun dibawah ini terdengar gemericik air. Ya, itu adalah hulu Sungai Cikapundung. 

 dscn7880.jpg track.gif dscn7895.jpg

Setelah melewati jalan datar, sesaat kemudian tak terasa jalan mulai menanjak. Beberapa rombongan pejalan kaki nampak sudah mulai berjalan pulang. Wah, nampaknya kita kesiangan karena banyak rombongan lain sudah mulai pulang.  Ketika nafas mulai memburi, tampaknya bale-bale di warung cukup nikmat untuk disinggahi dan kamipun berhenti sejenak untuk melepas penat. Tiba-tiba Pak Raharjo berteriak, kami semua kaget setengah mati ada apa gerangan. Ternyata Pak Raharjo menemukan makanan kegemarannya yang sudah 20 tahun lebih tak pernah ditemukannya lagi, namanya Ganyong. Sejenis ubi yang bentukanya mirip Jahe ataupun Laos. Manis dan berserat. Cukup nikmat disantap ditengah dingin pagi di tengah hutan. 

Di ujung jalan paving block, kami bertemu kembali dengan Eko dan Jeffri yang bersepeda. Nampaknya mereka berdua tidak melanjutkan perjalanan bersama ke Maribaya, karena track yang tersisi sudah mulai berbatu yang cukup runcing. Sementara para pesepeda tidak membawa peralatan standar untuk cross country, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, bocor ban misalnya, maka lebih aik perjalanan dihentikan untuk kembali pulang menuruni bukit. 

dscn7884.jpg dscn7887.jpg dscn7890.jpg

Tak sampai satu setengah jam, kami sudah sampai ke Maribaya dengan tiket masuk seharga 3.250 rupiah. “Kok harga tiketnya ganjil, Pak”. “Iya biar gak ada kembaliannya!” Dasar, ambil untung rupanya penjaganya.

Sayang sesampai di Maribaya, setealh menempuh perjalanan 3 Km, Pak Metra tidak menemukan pedagang Ketan Bakar seperti yang diidam-idamkannya. “Bagaimana kalau kita cari di Lembang saja, Pak?”  Selain Ganyong yang ditemukan Pak Raharjo dan tak lupa Pak Miitra juga membeli untuk dibawa pulang,  Pak Bowo juga menemukan Ubi Merah yang dengan serta merta dibelinya beberapa kilo untuk oleh-oleh istri di rumah. Bukan masalah ubi, ganyong maupun harganya tapi berat membawanya sepanjang perjalanan pulang inilah yang sangat berarti. Karena inilah wujud nyata dari cinta untuk istri di rumah.

 dscn7894.jpg tertawa.jpg curug-omas2.gif

Seperti biasa, yang selalu menarik pada setiap perjalanan adalah wisata kulinernya. Di sini, selain berbagai makanan tradisional tadi, perjalanan ditutup dengan menyantap nasi timbel merah, jambal goreng, peda, sambal dan lalap. Rasanya? Gak usah ditanya lagi, jika lapar dan letih sudah berkolaborasi, dan kita mampu menyukuri berkah Allah, maka apapun yang ada di depan mata akan selalu menjadi nikmat.

 dscn7896.jpg rscn7901.jpg 

Anda tertarik dengan perjalanan ini? Bergabunglah bersama kami untuk menikmati indahnya alam kita. Di sini, di dekat-dekat sini saja, di seputaran Bandung, mengagumi ciptaan Illahi, menikmati makanan lezat dan mudah-mudahan dapat juga sehatnya.

Komentar»

1. chocolover - 10 September 2007

wuihh…asyiiik deh kayana…jd pengen kesitu..>.<

2. fasddsfds - 30 September 2008

Anda tertarik dengan perjalanan ini? Bergabunglah bersama kami untuk menikmati indahnya alam kita. Di sini, di dekat-dekat sini saja, di seputaran Bandung, mengagumi ciptaan Illahi, menikmati makanan lezat dan mudah-mudahan dapat juga sehatnya.

3. Hilman Malik - 1 April 2011

asik sih perjalanannya dihutan yg masih terjaga keindahannya, cuman saya kecewa perjalanan menuju curug omas maribaya sangatlah melelahkan saya menempuh jarak 5km dengan berjalan kaki dan sesampainya disana tidak ada makanan yg nikmat untuk dimakan😥

4. yayat ruhiyat - 3 Oktober 2011

Jadi penasaran neh……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: