jump to navigation

Kabut di Puncak Caringin Tilu 15 Juli 2007

Posted by susilobu in Uncategorized.
trackback

kabut-di-puncak-caringin-tilu.jpgkabut-di-puncak-caringin-tilu.jpg

Matahari belum tinggi ketika kami semua, Pak Mietra, Deny, Masjkur, Anung, Eko dan Silo sudah berkumpul di rumah Bowo untuk memulai perjalanan ke puncak Caringin Tilu. Rombongan kami terbagi menjadi dua, yaitu kelompok pejalan kaki dan kelompok pesepeda.  Pak Mietra, Bowo, Deny, Maskur dan Anung adalah kelompok pejalan kaki. Sementara Silo dan Eko dan akan disusul pula oleh Nuryahya, Jefri, Tisna dan Ian yang akan ketemu di meting point adalah kelompok pesepeda.

lontong-sayur.jpgstart-point.jpg

Perjalanan pagi ini diawali dengan menyantap lontong sayur yang disediakan oleh Nyonya rumah. In baru tantangan pertama dan sekaligus pilihan paling sulit! Bagaimana tidak, mau dimakan kuatir kekenyangan di perjalanan menuju puncak. Mau tidak dimakan, nampak sayang sekali lontong sayur lengkap yang masih mengepul dan pasti sangat lezat.

Keluar dari rumah Bowo, sudah disambut demgan jalan menanjak. Silo dan Eko dipersilakan oleh kelompok pejalan kaki untuk menggenjot sepeda lebih dulu. “Ntar juga kesusul” kata para pejalan kaki.

Perjalanan menuju puncak Caringin Tilu sejak dari depan rumah Bowo, memang tak pernah ketemu jalan datar. In benar-benar full tanjakan. Dan akhirnya pada tanjakan yang kesekian dan sangat ekstrim, saya harus menyadari bahwa saya sudah tak mampu lagi menggenjot sepeda meskipun shifter sudah berpindah terus hingga gigi paling rendah, sementara Eko masih terus mendaki dengan santainya. Filosofi dalam dunia pesepeda, jangan sekali-kali mengukur kemampuan orang lain. Selalu ukurlah kemampuan diri sendiri.

Tengah asyiknya beristirahat, benar juga ternyata kelompok pejalan kaki berhasil menyusul dan kita istirahat bersama. Dan sejak saat itu akhirnya dua kelompok berjalan bersama-sama. Karena hampir tidak ada bedanya antara berjalan kaki dan bersepeda pada tanjakan yang sangat ekstrim begini. Alih-alih menggenjot sepeda atau menuntun sepeda, membawa diri berjalan kaki saja sudah sangat berat.

Setelah beberapa kali beristirahat, akhirnya sampai juga kami di puncak Caringin Tilu. Kabut menyapa disetiap penjuru pandangan. Kantor Japati yang biasanya nampak seperti lanskap dalam lukisan tertutup kabut tebal. Dingin udara seakan mengalahkan panasnya badan kami setelah terbakarnya kalori sepanjang perjalanan. Dan dingin seperi in, harus dilawan dengan segelas bandrek panas mengepul. Hmmm…

in-action.jpgtimbel1.jpgnikmatnya.jpg

timbel2.jpgbayar-masing-masing.jpgin-action2.jpg

Akhirnya perjalanan pagi ini ditutup dengan menyantap nasi timbel dengan nasi merah atau nasi hitam sesuai selera masing-masing, pepes, sambal dan lalap. Nikmat nian rasanya. Ternyata, kenikmatan itu bukanlah sesuatu yang mahal. Kenikmatan bisa juga diperoleh dengan hanya menyantap nasi timbul dan sambal  setelah kecapekan berjalan ke puncak bukit. Dan “tempat wisata, ternyata hanya sepelemparan batu jaraknya dari rumah saya….” Kata Bowo.

Kita semua tertawa, kita semua gembira. Dan next trip adalah Dago Pakar – Maribaya. Jika anda ingin merasakan kegembiraan seperti kami, mengapa anda tidak bergabung bersama kami. Berjalan kaki atau bersepeda, sama saja. Sama ngos-ngosannya!

Komentar»

1. ekonur - 16 Juli 2007

wahh…..ini sich bukan lagi mak nyuss mas…..ternyata perjalanan ke puncak caringin tilu penuh perjuangan dan do’a (wah seperti lagunya Bang Rhoma Irama aja yaahhhh…) yang paling berkesan pada saat dua tanjakan terakhir mas….wah…pokoke ruuuaarr biasa….

2. lo - 20 Juli 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: