jump to navigation

I Want To Ride My Bicycle 26 Maret 2007

Posted by susilobu in Sepeda.
trackback

bersembilan

Minggu pagi 25 Maret 2007 kemarin,  adalah hari minggu yang paling menggembirakan. Bagaimana tidak, komunitas bersepeda ketapel telah bertambah satu orang lagi, yaitu Doddy. Setelah minggu sebelumnya kegiatan bersepeda ketapel ini hanya diikuti oleh lima orang yang terdiri atas Sadiyono, Eko Nurkholis, Susilo, Sutisna (PAAP #2) dan tentu saja sang tour leader Nuryahya dengan sepeda balapnya, maka minggu ini minimal telah bertambaha satu orang. Ternyata di Minggu ini, peserta telah bertambah menjadi sembilan orang yang teridiri atas Nuryahya, Eko Nurcholis, Doddy, Susilo dan beberapa adik kelas dari PAAP #2 dan #3 yang terdiri atas Sutisna, Jeffry, Deny serta kawan lain yaitu Hadi dan Berry.

Oleh karena kita semua adalah pemula di bidang persepedaan dan pergenjotan serta mengingat usia yang tak bisa ditipu kalau kita sudah melewati empat puluh, maka etape sepeda minggu kemarin kita disain dengan sesedikit mungkin tanjakan.

Etape Appetizer
Tapi adakah Bandung tanpa tanjakan? Ternyata memang tidak ada. Inilah seninya bagaimana mendisain rute menanjak tapi seolah-olah flat atau kita cari jalur melingkar sehingga sesedikit mungkin ketemu tanjakan.

Akhirnya untuk memenuhi berbagai keinginan (atau keterbatasan?) kita disainlah rute sebagai berikut:
Start Point: GKP, Jl. Japati
Jl. Japati – Jl. Dipati Ukur (flat) – Jl. Ir. H. Juanda (turunan) – Jl. Merdeka (turunan) – Jl. Lembong (flat) – Jl. Jl. Asia Afrika (flat)
Stop Point #1: Gedung Merdeka

Jl. Cikapundung (turunan) – Jl. ABC (flat)  – Jl. Braga (flat) – Jl. Wastukencana (flat) – Jl. Riau (tanjakan) – Jl. Ir. H. Juanda (tanjakan)
Stop Point #2: Plaza Dago

Jl. Ir. H. Juanda (tanjakan) – Jl. Diponegoro (turunan)
Stop Point #3: Gedung Sate

Jl. Diponegoro (turunan) – Jl. Sentot (flat) – Jl. Japati (flat)

Finish Point: GKP, Jl. Japati

Dengan jarak tempuh yang diperkirakan maksimal 10 Km dengan sebagian besar medan onroad turunan.

Tepat 07.30 WIB start dimulai dari start point GKP di Jl. Japati. Baru beberapa kali ngengoes pedal sepeda dari Jl. Japati melewati Jl. Dipati Ukur, selepas simpang susun Cikapayang, kita sudah dihidangkan dengan menu pertama etape appetizer. Yaitu turunan landai sampai sepanjang Jl. Juanda menuju Jl. Merdeka. Meskipun landai, ternyata Cyclo di handle bar menunjukkan angka 37 Km/jam tanpa menekan shifter rem.Bandung di pagi hari dengan suhu 210C ditambah kecepatan sepeda segitu rasanya sriwing-sriwing menerpa jersey yang melekat dibadan. Enaaaakkkkk tenan. Ini benar-benar menu pembuka yang nikmat untuk bersepeda. Di seberang jalan pada arah sebaliknya menuju Dago, beberapa pesepeda perorangan maupun berombongan dengan senyum meskipun ngos-ngosan mengangkat tangan dan melempar salam. Inilah dunia sepeda, dunia penuh brotherhood. Asal tahu aja, pesepeda juga punya brotherhood, emang orang Harley aja yang punya!

Di depan Gedung Merdeka Jl. Asia Afrika, berhenti sejenak untuk take photo. gedung merdeka“Wah, belum kringetan nih, kok udah istirahat…” gurau kawan-kawan. Setelah beberapa kali take photo, perjalanan dilanjutkan lagi melewati Cikapundung, Braga terus Wastukencana. Pelan-pelan tanpa terasa jalan didepan sudah mulai mendongak keatas. Inikah tanjakan? Yang biasanya tiap hari kita lewati tanpa terasa kartena hanya dengan menginjak pedal gas mobil saja sudah melaju kencang.

Tiba-tiba Dody overlap memimpin di depan.
“Jangan ngebut-ngebut, Dod.
“Enggak. Gue mau nyuri tanjakan”
Benar saja, belum ada setengah tanjakan dilahap, shifter telah beberapa kali memindahkan gigi sampai habis baik dari front derailler maupun rear derailler. Inilah olah raga sesungguhnya. Hanya dengan dengkul dan napaslah modal kita.

Melewati perempatan Jalan Merdeka, kita belok kiri menuju arah Dago. Jalan di depan mata semakin mendongak ke atas. Untungnya beberapa meter di depan telah melambai-lambai stop point di depan Resto Tamani Kafe. Saat untuk istirahat.

Ngos, ngos, ngos…. napas berpacu.
Glek, glek, glek…… air di botol minuman tandas sampai tetes yang terakhir.
Ngos, ngos, ngos…. napas masih tersengal-sengal.


Etape Dessert yang Batal
Beberapa kilometer setelah stop poin ini kita akan sampai pada finish point. Tiba-tiba ada yang nyeletuk “Kayaknya bisa nih kalau kita teruskan ke Terminal Dago?” Terminal Dago di kalangan pesepeda jalur Dago merupakan stop point untuk menuju etape the real cross country selanjutnya. Karena setelah melewati Dago Golf menghadang di depan “tanjakan Allahu Akbar”, sing sopo lewat mesti nuntun! Atau mau yang tak kalah curamnya adalah rute Bandrek, karena di puncaknya ada warung bandrek yang menjadi stop point.

Benar juga, tiba-tiba melewati simpang susun Cikapayang yang harusnya belok kanan untuk kembali ke Japati ternyata rombongan mengambil jalan lurus. Dan ini berarti Terminal Dago menjadi finish point. ban bocorBelum berapa lama menapaki tanjakan, tiba-tiba Doddy turun dari sadel sepeda. Ban kempes. Waduh ban baru kempes juga? Terpaksalah rombongan menepi dan berhenti sejenak di tukang tambal ban.

Dago Cuma Indah Di Atas Mobil
Ya, Dago memang indah jika kita lihat dari dalam mobil. Tetapi jika kita tapaki dengan mengayuh sepeda, anda bisa bayangkan sendiri. Berat dan berat.Asbot dan asbot. Ngos dan ngos terus.

Meskipun beberapa kali berhenti di stop point tak resmi, akhirnya rombongan sampai juga di finish point samping Terminal Dago. Disana telah ada pula beberapa rombongan pesepeda yang juga tengah beristirahat.

Meskipun beberapa kawan yang lain masih ingin meneruskan perjalanan ke track cross country, namun mengingat berbagai pertimbangan lain, tour minggu pagi ini kita sudahi di puncak Dago ini dulu, minggu depan kita mulai lagi dengan rute yang lebih menantang. Menantang artinya gak ada tanjakannya….!

Dody minumdenymekosilogedung merdeka2jefrysembilanbrotherhood2

Setelah Tanjakan Selalu Ada Turunan
Menuruni Jalan Dago dari atas sadel sepeda berombongan delapan orang (Jeffry sudah duluan pulang karena ada acara ke luar kota), dari sini Dago benar-benar kelihatan indahnya. Tidak seperti tadi saat berangkat.

Disinilah filosofi bersepeda membuktikan kebenarannya “setelah tanjakan selalu ada turunan” dan turunan ini telah membayar lunas semua tanjakan yang telah kita lalui dengan segala capek dan ngos-ngosan. Turunan demi turunan kita lewati dengan cyclo pada angka diatas 30 Km/jam. Hooyyyy enak betul naik sepeda ya….

Sampai ketemu dengan reportase minggu depan. Saha deui anu hoyong ngiring?
Keep Genjot.
Keep sehat.

Dari balik earphone MP4 yang menempel di telinga, Freddy Mercury berteriak dengan penuh semangat:
I want to ride my bicycle,
I want to ride my bike………

on mybike

[silo, 25 Maret 2007]

Komentar»

1. Nurhayadi - 28 Maret 2007

Selamat ber sepede rie … saya tunggu rombongan di rumah saya Griya Bintara Indah Bekasi

2. jajat. - 27 Oktober 2009

mau ikut gabung ..boleh gak..?? kayaknya treknya gak terlalu berat nih..(maklum saya juga udah rada tua) jadi gak terlalu kuat dibawa nanjak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: